Senin, 16 Januari 2012



Kebetulan dapet tugas bikin biografi dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Tokohnya boleh siapa saja, dan aku memilih Dewi Lestari. Yipiee! Dan berikut ini aku posting tugasnya, sekalian buat kenang-kenangan. Hahaha. Langsung aja ya. Let's play..

Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee. Lahir di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 20 Januari 1976. Dee adalah seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia. Lulusan jurusan Hubungan Internasional Universitas Parahyangan ini awalnya dikenal sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. Sejak menerbitkan novel Supernova yang populer pada tahun 2001, ia juga dikenal luas sebagai novelis.







KARIER MENYANYI
Dee terlahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong dan Turlan br Siagian (alm). Sejak kecil Dee telah akrab dengan musik. Ayahnya adalah seorang anggota TNI yang belajar piano secara otodidak. Sebelum bergabung dengan Rida Sita Dewi (RSD), Dee pernah menjadi backing vocal untuk Iwa K, Java Jive dan Chrisye.

Trio RSD meluncurkan album perdana, Antara Kita pada tahun 1995 yang kemudian dilanjutkan dengan album Bertiga (1997). RSD kemudian berkibar di bawah bendera Sony Music Indonesia dengan merilis album Satu (1999). Menjelang akhir tahun 2002, RSD mengemas lagu-lagu terbaiknya ke dalam album The Best of Rida Sita Pada tahun 2006, Dee meluncurkan album berbahasa Inggris berjudul Out Of Shell, dan tahun 2008 melucurkan album RectoVerso. Hits besarnya adalah "Malaikat Juga Tahu". Di Album ini juga Dee merilis ulang lagu milik Marcell Siahan berjudul "Firasat".


KARIER MENULIS
Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau Dee telah sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul "Sikat Gigi" pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul "Ekspresi" ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul "Rico the Coro" yang dimuat di majalah Mode.

Novel pertamanya yang sensasional, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling, ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.

Supernova pernah masuk nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books. Bersaing bersama para sastrawan kenamaan seperti Goenawan Muhammad, Danarto lewat karya Setangkai Melati di Sayap Jibril, Dorothea Rosa Herliany karya Kill The Radio, Sutardji Calzoum Bachri karya Hujan Menulis Ayam dan Hamsad Rangkuti karya Sampah Bulan Desember.

Sukses dengan novel pertamanya, Dee meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul "Akar" pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.

Pada bulan Januari 2005 Dee merilis novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Kisah di novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia memasukkan 4 tokoh baru dalam PETIR. Salah satunya adalah Elektra, tokoh sentral yang ada di novel tersebut.
Lama tidak menghasilkan karya, pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel terbarunya yaitu RECTOVERSO yang merupakan paduan fiksi dan musik. Buku RECTOVERSO terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang saling berhubungan.

Pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas yang kemudian disusul terbitnya kumpulan cerita “Madre” pada Juli 2011. Kumpulan cerita “Madre” berisikan 13 prosa karya fiksi.
(credit : www.wikipedia.org)

PENDAPAT SAYA:
Mengesampingkan kontroversi novel Supernova 2 : “Akar” yang bagi umat Hindu dianggap suatu pelecehan, saya sangat mengagumi Dewi Lestari. Penulis yang lebih akrab disapa Dee ini banyak menghasilkan novel-novel yang bermutu. Salah satunya novel Supernova yang terbagi menjadi trilogi. Selain itu novel Perahu Kertas juga menjadi novel favorit saya. Apalagi dalam novel tersebut terdapat tokoh orang Bali dan latar yang digunakan di beberapa bagian novel Perahu Kertas mengambil tempat di Bali yaitu Ubud.

Bukan hanya terkenal sebagai penulis, Dewi Lestari juga terkenal dalam bidang menyanyi. Walau kini Dewi Lestari lebih memfokuskan diri sebagai penulis. Eksistensinya dalam menulis tidak perlu diragukan lagi. Terbukti pada Juli 2011 lalu, penulis yang terkenal dengan lagunya “Malaikat Juga Tahu” kembali meluncurkan karyanya yaitu kumpulan cerita “Madre” yang terdiri atas 13 cerita karya fiksi.

Hal-hal yang patut saya teladani dari Dewi Lestari adalah kita dapat menggapai dua mimpi bahkan lebih, asalkan kita bersungguh-sungguh dalam mewujudkan mimpi tersebut. Seperti Dewi Lestari yang tidak hanya berprofesi sebagai penulis namun juga mampu berkiprah sebagai penyanyi. Menjalani hidup jangan hanya mewujudkan satu mimpi saja. Selagi bisa, tidak ada salahnya untuk mencoba mewujudkan mimpi-mimpi yang lain. (rai-ina)

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini.
Setelah membaca mohon tinggalkan pesan pada kolom komentar.
Salam. ^^

 
Copyright (c) 2010 My Dream is My Life. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.