Selasa, 08 November 2011

Penulis : Windhy Puspitadewi
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 180 halaman
Terbit : Agustus 2010
Rating : 4/5


Aku seperti bunga matahari yang selalu mengejar sinar matahari, hanya melihat pada dia: matahariku.
Aku mengagumi kedalaman pikirannya, caranya memandang hidup-malah, aku mati-matian ingin seperti dirinya. 

Aku begitu terpesona hingga tanpa sadar hanya mengejar bayang-bayang. Aku menghabiskan waktu dan tenaga untuk mendongak sampai lupa kemampuan diriku sendiri.

Aku bahkan mengabaikan suara lirih dari dasar hatiku. Aku buta dan tuli. Dan di suatu titik akhirnya tersungkur. Saat itulah aku mulai bertanya-tanya: Apakah dengan menjadi seperti dia, aku pun akan dicintai?




Sinopsis :
Satu lagi novel Windhy Puspitadewi. Morning Light. Aku bener-bener jatuh cinta sama gaya penulis yang satu ini. Caranya menyampaikan perasaan antar tokoh tuh romantis banget (alay mode on!). Kita sebagai pembaca bisa merasakan kejadian dalam setiap novelnya. Hasilnya? Tiap aku baca novel kak Windhy bawaannya pengen senyum aja. Sampe kakakku sendiri ngatain aku kurang waras.

Novel Morning Light sendiri menceritakan empat orang remaja yang sedang mencari jati diri yaitu Devon, Sophie, Julian, dan Agnes. Mereka berempat selalu menjadi bayang-bayang orang tua mereka.  Tanpa mereka ketahui, sebenarnya mereka memiliki kemampuan lain yang tak kalah membanggakan. Namun lagi-lagi karena bayang-bayang orang tua, mereka terpaksa menekuni dunia yang mereka tak sukai. Seperti tokoh Sophie yang sebenarnya mempunyai bakat dalam bidang fotografi. Tapi karena Ibu Sophie adalah penulis terkenal, Sophie berusaha untuk menjadi penulis. Dan hasilnya, tulisan Sophie di tolak penerbit.

Cerita ini berakhir happy ending. Dimana semua tokoh menyadari kemampuan mereka yang sebenarnya tanpa harus menjadi bayangan orang tua. Mereka juga menemukan orang yang berarti dalam hidupnya. Devon dan Sophie yang akhirnya menyadari perasaan satu sama lain, Julian yang mampu mendampingi Agnes walau dulu Agnes sempet naksir Devon. Dan semua berakhir bahagia. Pesan dari novel ini adalah bagaimana kita harus menjadi diri sendiri bukannya malah menjadi orang lain hanya karena ingin membuat orang tua bahagia. Percuma kalau kita berusaha menekuni bidang A, tapi sebenarnya kita memiliki kemampuan di bidang B. 

Aku paling seneng sama tokoh Devon dan Sophie yang letak rumahnya bersebelahan, terus dari kecil mereka udah deket satu sama lain. Kayanya klise, dari kecil udah bareng eh ampe gede tetep bareng karena memang takdir. Istilahnya sahabatan sejak kecil, saat mereka beranjak dewasa mereka jadian.Sempet kasian sama tokoh Agnes yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Yailah, Devon kan cintannya cuma sama Sophie. Tapi untung ada tokoh Julia yang bisa mendilampingi Agnes. 


Sekian dari saya. Btw aku merokemendasikan buat kalian untuk membaca novel yang satu ini. (rai-ina)

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini.
Setelah membaca mohon tinggalkan pesan pada kolom komentar.
Salam. ^^

 
Copyright (c) 2010 My Dream is My Life. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.