Senin, 09 September 2013


Penulis : Lexie Xu
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 301 halaman
Terbit : Mei 2011
Rating : 4/5

Hai, namaku Hanny Pelangi, dan hidupku saat ini bagaikan sederetan mimpi buruk.

Awalnya semua terlihat luar biasa. Aku sedang menikmati liburan yang menyenangkan bersama sahabatku, Jenny, di Singapura saat aku diminta pulang oleh pacar baruku, Benji, sang ketua OSIS, lantaran aku terpilih menjadi salah satu pengurus MOS. Wow! Terpilih menjadi anggota tim elite dan mendapat kesempatan menyiksa murid-murid baru? Siapa yang tidak mau?

Namun semuanya ternyata tidak seindah yang kubayangkan. Belum apa-apa rapat kami sudah diteror oleh seorang cowok bengal yang tidak naik kelas, sangat membenciku, dan hobi membuatku malu. Pokoknya, cowok yang minta diinjak mukanya deh.

Urusan ini bertambah parah saat Benji mengajak kami mengarang kisah horor bohongan seputar sekolah kami. Maksudnya sih untuk menakut-nakuti anak-anak baru. Tak disangka, kisah-kisah horor bohongan itu malah menjelma menjadi kenyataan. Satu demi satu pengurus MOS mengalami kecelakaan mengerikan yang tidak bisa dijelaskan. Puncak-puncaknya, nyawaku nyaris melayang.

Apakah yang menyebabkan kecelakaan-kecelakaan ini? Kutukan kisah horor yang berbalik menimpa kami? Anak baru yang dendam pada kami?

Kalau memang begitu, mengapa semua petunjuk mengarah pada Jenny?




Sinopsis :
Awalnya rencana liburan ke Singapura ini terdiri dari 4 orang : Jenny, Hanny, Tony, dan Markus. Namun menjelang keberangkatan Tonny dan Markus membatalkan liburannya karena mengikuti kamp Judo. Praktis, hanya Hanny dan Jenny yang mengahabiskan liburan panjang di Singapura. Tapi mendadak Hanny harus meninggalkan sahabat baiknya itu karena dirinya diminta menjadi panitia pengurus MOS oleh Benji, pacar sekaligus ketua osis di SMA Persada Internasional. Jelas Hanny tak dapat menolak kesempatan ini. Tidak semua orang bisa menjadi bagian tim elite ini, yang memang terdiri dari siswa keren dan populer. Dengan berat hati, Hanny meninggalkan Jenny sendiri di Singapura.

Tapi rupanya menjadi pengurus MOS tidak seindah yang dibayangkan. Selama rapat panitia, Hanny harus menahan diri karena rasa muaknya terhadap rekan sesama panitia, Violina si cewek-pencari-perhatian dan si-tukang-tebar-pesona. Belum lagi Hanny selalu diganggu oleh Frankie, adik kelas yang terkenal bikin onar dan suka bolos. Frankie sebenernya satu angkatan dengan Hanny, tapi karena terlalu berandal ia tidak naik kelas. Lalu kenapa Frankie bisa jadi pantia MOS? Tentu saja karena rekomendasi sang kakak, Ivan, yang merupakan mantan Hanny. 

Seolah kekesalannya belum cukup, Hanny harus dibuat pusing dengan ide gila Benji yang ingin membuat MOS tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Singkat cerita, para pengurus MOS berhasil membuat 6 cerita horor mengenai kejadian mengerikan di sekolah. Tujuannya untuk menakuti para peserta MOS. Cerita itu akan dibacakan setiap hari dan regu yang ditunjuk ditugaskan untuk mengecek kebenaran cerita horor tersebut. 

Tapi kejadian aneh mulai terjadi sejak hari pertama MOS. Mendadak cerita horor pertama menjadi kenyataan. Gedung Gym yang baru dibangun seketika runtuh hingga menimpa para peserta MOS dan dua panita MOS yang bertugas mendampingi yaitu Mila dan Hanny. Keesokan harinya para pengurus MOS dibuat gempar karena adanya tulisan "Pengurus MOS Harus Mati" yang ditulis menggunakan darah ayam. Kalimat tersebut berada si segala penjuru sekolah : Auditorium, toilet cowok, bahkan dinding loker lantai 3. Kemudian satu persatu panitia MOS mengalami sebuah kecelakaan tragis sesuai dengan cerita horor yang dibacakan tiap harinya.

Bersama Frankie, Hanny menyelidiki siapa pelaku dari semua kejadian mengerikan ini. Mereka meyakini bahwa penyebabnya bukan kutukan akibat dibuatnya cerita horor bohongan ini--seperti yang banyak orang sangka. Atau pembalasan adik kelas yang tidak terima perlakuan para pengurus MOS--seperti anggapan Benji. Frankie dan Hanny menyakini pelakunya adalah siswa senior di SMA Persada Internasional mengingat pelaku sangat mengerti seluk beluk tentang sekolah ini.

Tapi secara mengejutkan semua petunjuk mengarah pada Jenny. Ya, Jenny sahabatnya. Hanny jelas tidak percaya dengan perkembangan ini. Namun Jenny mendadak tidak bisa dihubungi dan orangtua Jenny juga tidak mengetahui keberadaan anaknya. Kemana pergi Jenny? Mungkinkah Jenny terlibat dalam kejadian ini? Lalu mengapa Markus tiba-tiba menelpon Hanny dan mengatakan bahwa Johan telah kembali?


***


Novel ini lagi-lagi sukses membuat ngeri para pembaca dengan berbagai kejadian mengerikan 6 cerita horor. Gaya penulisan pun tetep sama, menggunak PoV sudut orang pertama yang sangat mengasyikan. Bagaimana kita diajak menyelami pikiran si tokoh utama yang begitu narsis terhadap kecantikannya dan lagi-lagi mengabaikan sahabat baiknya. Ya, dalam novel ke-2 dari rangkaian Johan Series, tokoh Hanny berhasil memonopoli semua cerita menggunakan sudut pandangnya. 

Yah jujur saja, aku sangat jenuh membaca narasi Hanny dalam satu novel yang tebalnya melebihi OBSESI. Harusnya sudut pandang tokoh Frankie diberikan jatah dalam novel ini. Biar sama seperti novel sebelumnya yang menggunakan dua sudut pandang : Jenny dan Hanny. Karena aku ngerasa disinilah point lebih dari Johan Series, setiap tokoh diberi jatah untuk bercerita melalui sudut pandang masing-masing. Mungkin inilah penyebab mengapa aku nggak begitu kepincut sama tokoh Frankie. Tapi syukur di novel ke-3 : Permainan Maut, sudut pandang diambil dari tiga tokoh.

Chemistry antara Hanny dan Frankie menurutku kurang. Emang sih pada novel ini, bagian romance bertebaran dimana-mana. Tapi ya gitu deh, nggak ada yang begitu berkesan. Beda banget sama OBSESI yang romance-nya dikit tapi chemistry-nya dapet banget. Bagiku, Jenny dan Tony masih menempati posisi utama sebagai pasangan favorit. Jadi sedikit kehilangan saat tau mereka nggak nongol di novel ini. Jenny sih iya di akhir cerita, tapi Tony? Dia bener-bener nggak muncul dari awal sampai akhir. Parahnya, si Johan muncul lagi! Astaga.

Dan untuk jalan cerita, aku nggak menduga bahwa pelakunya itu dan motifnya itu (maaf, yang ini sepertinya spoiler). Penulis bener-bener pinter mengelabui pembaca. Aku aja awalnya pecaya--walaupun dengan berat hati--bahwa besar kemungkinan Jenny adalah pelaku semua ini. Apalagi keberadaan Tony dan Markus yang dari awal begitu mencurigakan, karena sama seperti Jenny, mereka juga mendadak nggak bisa dihubungi. Aku jadi mulai berpikir apakah mereka bertiga yang melakukannya? Tapi syukurlah enggak. Dan pertanyaan kemana perginya si-duo-cowok-populer-dan-keren akan terjawab di novel berikutnya. Permainan Maut. (rai-ina)

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini.
Setelah membaca mohon tinggalkan pesan pada kolom komentar.
Salam. ^^

 
Copyright (c) 2010 My Dream is My Life. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.