Jumat, 13 September 2013


6097251
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 288 halaman
Terbit : 2009
Rating : 3/5

Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu. Suatu saat tiba-tiba kau baru sadar, cinta menyergapmu tanpa peringatan.

-Sei-
Aku mencintai Ai. Tidak tahu sejak kapan - mungkin sejak pertama kali dia menggenggam tanganku - aku tidak tahu mengapa, dan aku tidak tahu bagaimana. Aku hanya mencintainya, dengan caraku sendiri. Sekarang, semuanya sudah terlambat. Tidak. Semuanya sudah terlambat jauh sebelum hari ini - mungkin sejak festival musim panas itu, atau mungkin sejak kedatangan Shin. Dia telah memilih, sadar maupun tidak, dan orang itu bukanlah aku.

-Ai-
Aku bersahabat dengan Sei sejak kami masih sangat kecil. Saat mulai tumbuh remaja, gadis-gadis mulai mengejarnya. Entah bagaimana, aku pun mulai jatuh cinta padanya, tetapi aku memilih untuk menyimpannya. Lalu, datang Shin ke dalam lingkaran persahabatan kami. Dia membuatku jatuh cinta dan merasa dicintai. Kami bahagia, tetapi suatu hari Shin pergi dan tak bisa kembali lagi.


Ai, Cinta Tak Pernah Lelah Menanti.



Sinopsis :
Ai dan Sei sudah bersahabat sejak kecil. Mereka tinggal di sudut negeri Jepang yang dikelilingi oleh laut. Selain karena hari kelahiran mereka yang sama yaitu diawal musim dingin, letak rumah mereka juga bersebelahan. Ayah Ai adalah seorang ilmuwan Amerika dan Ibu Ai yang merupakan seniman kontemporer asal Indonesia. Mereka mendiami rumah yang lantai bawahnya terdapat pemandian umum yang sangat terkenal di desanya. Di samping rumah Ai, terdapat rumah Sei yang lantai bawahnya terdapat restoran Matsumoto yang terkenal, milik keluarga Sei. 

Sei ingat bagaimana awal pertemanannya dimulai, saat itu Ai kecil datang menghibur dirinya yang menangisi kematian Shin--hamster kesayangan Sei. Sejak itu mereka seolah saling ketergantungan. Kemana pun selalu bersama. Kadang Ai bersikap seperti kakak yang selalu melindungi Sei (usia Ai memang setahun lebih tua dari Sei), tapi lama kelamaan keadaan malah berbalik. Sei yang melindungi dan menjaga Ai, saat sahabatnya itu patah hati. Persahabatan mereka sangat erat. Walau pernah ditinggal Ai yang memutuskan menetap di Bali bersama Ibunya pasca perceraian orangtuanya, toh Ai pada akhirnya kembali pada Sei. Ya, kematian Ibunya yang membawa Ai kembali menetap bersama Ayahnya.

Kemudian datanglah Shinichi Matsuoka, pemuda asal dari Tokyo yang mendadak harus tinggal bersama kakek neneknya setelah kecelakaan yang merengut kedua orangtuanya. Di restoran Matsumoto, Shin berkenalan dengan Sei dan Ai. Persahabatan mereka tumbuh dan terjalin dengan rapi. Kini bukan hanya Sei dan Ai tapi Shin, Sei, dan Ai. Mereka bertiga selalu melakukan hal bersama. Bahkan saat Shin memutuskan untuk kuliah di universitas terkemuka di Tokyo, Ai juga mengambil kuliah disana dan mebujuk agar Sei ikut bersama mereka.

Awalnya Sei tidak mau masuk Universitas Todai. Ia merasa Ai telah melupakan janjinya. Saat itu Ai berjanji akan mengikuti Sei yang akan bersekolah di kampus desa. Tapi pada akhirnya Sei menyetujui permintaan kedua sahabatnya tersebut. Dan ia memutuskan berhenti bersikap kekanak-kanakan hanya karena Ai lebih memilih mengikuti Shin. Sei kini menyadari bahwa Ai dan Shin saling mencintai. Walaupun ia tak rela tapi ia mengakui bahwa bersama Shin, Ai akan bahagia. 

Dan berangkatlah mereka menuju Tokyo, pusat kota Jepang. Masing-masing mulai fokus kuliah dan mulai berkerja paruh waktu. Ai menjadi penyiar radio, Shin bekerja di sebuah toko CD dam Sei bekerja di restoran. Disanalah Sei bertemu dengan Natsu, gadis tegas yang merupakan rekan kerjanya. Sei mulai menjalani hubungan dengan Natsu karena mustahil baginya selalu mengekor pada Ai dan Shin. 

Hingga suatu ketika Shin mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Ai yang sangat terpukul mendadak merasa dunianya kacau balau. Melihat sahabatnya yang menderita, Sei memilih berada di samping Ai dan memutuskan hubungannya dengan Natsu. Tanpa sadar Sei mengaku bahwa ia telah mencintai Ai sejak dulu. Mendengar hal itu Ai malah menjauhinya. Ai berada dipersimpangan. Di satu sisi ia merasa bersalah kepada Shin jika menerima Sei. Tapi di sisi lain, Ai sebenarnya sudah mencintai Sei jauh sebelum kedatangan Shin--yang akhirnya membuatnya berpaling pada Shin. Apa yang harus ia lakukan?


“Aku tidak membencimu. Yang aku benci adalah orang-orang lemah yang tidak bisa berdiri pada kedua kaki mereka sendiri, selalu bergantung dan menyebabkan penderitaan pada orang lain.” (halaman 261)

"Dia ada disimu setiap kali kau membutuhkannya, tapi apa kau ada disisinya saat dia paling membutuhkanmu? Apa hubungan semacam ini yang kau sebut persahabatan?" (halaman 262)

"Aku hanya mencintainya, dengan caraku sendiri. Sekarang, semuanya sudah terlambat. Tidak. Semuanya sudah terlambat jauh sebelum hari ini--mungkin sejak festival musim panas itu, atau mungkin sejak kedatangan Shin. Dia telah memilih, sadar maupun tidak, dan orang itu bukanlah aku." (halaman 117)
***

Aku tertarik membaca novel ini karena Refrain. Setelah aku membaca Refrain (kebetulan aku puas dengan novel) aku mulai menyelidiki novel Winna Efendi yang lainnya. Dulu juga pernah ada seorang teman yang berkata sangat menyukai novel "Ai" hingga menangis saking sedihnya. Berbekal hal tersebut aku memutuskan membaca novel ini. Mohon maaf, aku jauh lebih suka Refrain dan aku sama sekali nggak nangis saat baca novel ini.

Cerita novel ini mempunya plot yang sama dengan Refrain. Kisah dua sahabat laki perempuan yang sudah berteman sejak kecil, kedatangan pendatang baru yang ikut dalam persahabatan mereka dan si pendatang baru menyukai salah satu diantara dua sahabat kecil. Bedanya jika di Refrain si pendatang baru adalah cewek (Annalise), di "Ai" pendatang barunya adalah cowok (Shin). Tapi feel Refrain lebih terasa, chemistry mereka lumayan ada, dan rasa sakit para tokoh lebih logis. 

Sedangkan di novel ini, aku nggak ngerasain feel pas bacanya. Alur disini juga lambat dan parahnya nggak ada chemistry para tokoh. Itulah alasan kenapa aku nggak nangis saat tau Shin meninggal. Atau nggak jingkrak-jingkrak saat tau Ai ternyata juga menyukai Sei. Dan yang lebih menyakitkan baca novel ini, tokoh Ai egoisnya minta ampun. Tega-teganya dia lupain janjinya yang mau ngikutin kemana pun Sei pergi. Lucunya, Sei yang dengan tingkat kesabarannya yang sangat tinggi mau memaklumi perlakuan Ai. Bahkan mau aja jadi obat nyamuk saat Ai dan Shin bersama. 

Mungkin satu kelebihan novel ini adalah banyaknya quote mengharu-biru yang bertebaran di sepanjang cerita. Serta latar belakang Jepang yang membuat para pembaca lebih memahami kebudayaan Jepang. Tapi melihat perubahan alur, yang tiba-tiba bisa berubah menjadi alur mundur tanpa peringatan sebelumnya, mau nggak mau bikin kepala puyeng bacanya. Tiga bintang untuk novel ini. (rai-ina)

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini.
Setelah membaca mohon tinggalkan pesan pada kolom komentar.
Salam. ^^

 
Copyright (c) 2010 My Dream is My Life. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.