Rabu, 04 September 2013


13454623
Penulis : Retni SB
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 288 halaman
Terbit : Februari 2012
Rating : 3/5

Sudah jatuh, ketimpa tangga, ketumpahan cat, kepeleset, terjungkal masuk sumur, lecet benjol, berdarah-darah, kemudian dicaplok buaya nganga. Begitulah perumpamaan kisah hidup Tita sekarang. Jungkir balik, berantakan secara mengerikan.

Ini bukan mimpi! Papanya dianggap koruptor, jadi tumbal dan masuk penjara. Efeknya? Mama harus dirawat karena depresi, adik mogok sekolah, pacar menghilang, sahabat menjauh, dan ujung-ujungnya, semua aset keluarga disita guna membayar ganti rugi negara. Seperti belum cukup, dia masih harus berhadapan dengan Dido: cowok keren berkedok dewa yang nyaris melahapnya!

Ini bukan sinetron! Karenanya Tita tak sampai banjir air mata hingga ratusan episode. Dia harus tetap berdiri tegak untuk melanjutkan hidup. Dia harus bisa tertawa cerah bagai mercusuar di gelap kehidupan keluarganya. Apalagi akhirnya dia tahu, ada seseorang yang tak membiarkannya sendirian tergulung badai. Seseorang yang tanpa disadarinya, selama ini telah menjaganya!



Sinopsis :
Tita merasa dunianya runtuh seketika. Papanya mendadak di vonis 6 tahun penjara karena kasus korupsi yang mengakibatkan kerugian negara sebesar 110 miliyar!! Tita tau persis papanya tidak melakukan hal tersebut. Lagipula kehidupan keluarga Tita bersahaja tidak hura-hura. Jadi Tita percaya bahwa papanya tidak mungkin melakukan korupsi. Papanya hanya dijadikan sebagai tumbal oleh para petinggi di perusahaan BUMN. Padahal sudah jelas banyak nama yang terlibat tapi nama-nama tersebut hanya menjadi angin lalu. Pihak kejaksaan seolah lepas tangan, tidak mau bersusah payah untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. 

Dunia sepertinya belum puas melihat Tita menderita. Setelah vonis papanya, perlahan semua mulai berubah. Adiknya Nena mendadak mogok sekolah sehingga harus dibujuk agar mau bersekolah di rumah nenek yang terletak di Cirebon. Sementara mamanya mendadak menjadi depresi sehingga harus dirawat di sebuah panti. Belum lagi dua sahabatnya, Vio dan Lala yang mendadak mulai menjauh. Harry, pacar Tita juga menghilang tiada kabar. Dan hal yang terakhir sungguh menyakitkan. Rumah, mobil, tabungan, dan lain-lain juga harus disita demi membayar kerugian negara 110 milyar. 

Tita benar-benar menjadi bangkrut. Apalagi keluarga Tita masih mempunyai hutang terhadapa Jodik, arsitek yang mengurusi renovasi taman di rumah Tita terdahulu. Demi menebus hutang tersebut dan untuk membiayai hidup, Tita mengiyakan ajakan Jodik untuk bekerja di kantornya. 

Jangan bayangkan kantor Jodik adalah kantor mewah, besar, dan keren. Salah besar. Kantor Jodik hanya sebuah rumah berlantai dua yang merangkap menjadi kantor. Tak ada pegawai tetap disana. Dengan tabah Tita bekerja disana mengingat sosok Jodik bukan sosok lelaki yang manis atau bersikap lembut terhadap perempuan. Melainkan laki-laki yang sangar, sinis, dan dingin. Mengingat Tita baru lulus dari arsitek dan belum memiliki pengalaman, bekerja dengan Jodik merupakan satu-satunya jalan keluar agar mendapat uang. 

Suatu ketika Dido yang merupakan anak dari atasan papa Tita menawarkan pekerjaan pada Tita. Jelas dengan senang hati Tita menerimannya. Perlakuan Dido yang manis dan kejengkelannya terhadap Jodik membuat Tita mengambil keputusan secara cepat. Saat itu juga ia memutuskan selesai bekerja pada kantor Jodik. Lambat laun Tita merasa nyaman bekerja disana dan dirinya menjadi dekat dengan Dido. Tapi hati kecilnya kadang masih ragu bekerja pada perusahaan yang pemiliknya merupakan anak dari atasan papanya yang menyebabkan kehidupan keluarganya jungkir balik.

Hingga kejadian malam itu, saat Tita hampir dilahap habis Dido di apartemen milik laki-laki itu, Tita menyadari bahwa jalan yang diambil telah salah. Dido tak seperti yang dipikirnya. Dari luar dia memang tampak baik namun kelakukannya sama-sama menyebalkan seperti papanya. Malah orang yang selama ini menurut Tita menyebalkan, ternyata telah menyelamatkannya dari ancaman Dido. Ya, Jodik. Cowok bermulut pedas itu yang menjemputnya dari lokasi kejadian. 

Sejak kejadian itu, Tita mulai memandang Jodik dari sudut berbeda. Ia baru menyadari bahwa Jodik sangat perhatian terhadap keluarganya. Diam-diam Jodik sering mengunjungi papanya di rutan Cipinang dan mamanya di panti di daerah Cibubur. Dan yang terpenting Jodik lah yang selalu menemani Tita dari keterpurukan. Siapa sebenarnya Jodik hingga bisa begitu dekat dengan keluarganya? Bahkan dengan seenaknya melamar Tita yang anehnya disetujui oleh papa Tita.


***

Awalnya aku tertarik membaca novel ini karena ingin tau bagaimana situasi anak dari seorang (terduga) koruptor. Karena jarang-jarang ada novel yang mengangkat tema seperti ini. Tapi begitu membacanya, aku langsung kecewa. Kenapa? Novel ini memang memperlihatkan bagaiman kehancuran sebuah keluarga karena sebuah kasus korupsi, tapi hanya di bab awal-awal saja. Selanjutnya hal-hal yang berbau arsitektur lebih banyak dibahas disini. Harapan ku yang ingin menambah wawasan tentang dunia korupsi, tak terwujud setelah membaca novel ini. Rupanya tema korupsi hanya sebagai pemanis cerita bukan inti cerita.

Di bagian awal juga bertebaran narasi yang panjaaaaang tanpa jeda. Dan itu sedikit membosankan untuk dibaca. Tema persabatan di novel ini juga kurang greget. Hubungan Tita dengan Betet dan Sani seperti tidak mempunyai magnet. Obrolan mereka berkutat di situ-situ saja, sedikit hambar untuk sebuah kisah persahabatan. Dan chemistry Jodik-Tita nol besar, momen mereka terlalu sedikit. Alasan Jodik menyukai Tita juga sedikit gamang, tidak jelas awal kisahnya. 

Tapi...... Syukurnya ada 'tapi'. Setelah mereka menikah, akhirnya chemistry mereka mulai terlihat. Apalagi suprise yang diberikan Jodik ke Tita diakhir cerita, waduuh manis banget ternyata si Jodik ini. Kisah hidup si Jodik juga mau nggak mau bikin mulut ternganga. Sama sekali nggak kepikiran ternyata ada alasan kenapa Jodik bisa mengenal baik papa Tita. Penulis sukses menyembunyikan rahasia ini. Mau tau apa? Baca sendiri ya.

Biarpun ada sedikit chemistry, aku tetep kasi rating novel ini 3. Karena aku masih nggak setuju dengan ending cerita novel ini, yang seolah menerima dengan pasrah tuduhan korupsi yang sebenernya nggak dilakuin papa Tita. Harusnya damprat aja bapaknya Dido, usaha dikit lah. Jangan cari kebenaran cuma di MA, mending minta pertanggung jawaban dan penjelasan sama empunya yang punya ulah alias para atasan papanya Tita. Lagian kalau orang korupsi besar-besaran kan banyak melibatkan orang, kalau satu ketangkep ya gimana caranya biar yang ketangkep itu nggak bocor di pengadiaan. Caranya? Ya, buat perjanjian kalau anda masuk penjara, keluarga anda saya yang nangung biaya kehidupannya. Gitu bukan? Ah nggak ngerti. 

Tapi jalan cerita novel ini bener-bener beda. Aneh bukan, kamu nggak korupsi, kamu cuma dijebak, tapi harus dipenjara dan uang plus aset yang selama ini susah payah dikumpulkan melalui jerih payah sendiri mendadak disita. Itu seperti kamu bukan maling tapi malah ditangkep polisi alias jadi korban salah tangkep. Dan lucunya sampai cerita habis, kamu tetep jadi korban salah tangkep dan menerima dengan lapang dada seolah ini musibah. Are you seriously? Segitu kejamkah dunia ini? Yang nggak korupsi dikira korupsi. Aneh bin ajaib nih ceritanya. Syukur fiksi. (rai-ina)

0 komentar:

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini.
Setelah membaca mohon tinggalkan pesan pada kolom komentar.
Salam. ^^

 
Copyright (c) 2010 My Dream is My Life. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.