Kamis, 29 Agustus 2013


6788533
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 318 halaman 
Terbit : September 2009
Rating : 4/5

Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini, yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.

Ini bisa jadi sebuah kisah cinta biasa. Tentang sahabat sejak kecil, yang kemudian jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri. Sayangnya, di setiap cinta harus ada yang terluka.

Ini barangkali hanya sebuah kisah cinta sederhana. Tentang tiga sahabat yang merasa saling memiliki meskipun diam-diam saling melukai.

Ini kisah tentang harapan yang hampir hilang. Sebuah kisah tentang cinta yang nyaris sempurna, kecuali rasa sakit karena persahabatan itu sendiri.


Refrain, Saat Cinta Selalu Pulang.




Sinopsis : 

Nata dan Niki saling mengenal sejak usia mereka 5 tahun. Letak rumah mereka yang berdekatan serta Ibu mereka yang memang saling mengenal, membuat hubungan mereka menjadi sebuah persahabatan. Setiap malam mereka mempunyai kebiasaan duduk diatas trampolin yang terletak di belakang halaman rumah Nata. Di bawah kerlip bintang Nata dan Niki saling bertukar cerita di trampolin tersebut. Kebiasaan dari kecil itulah tanpa sadar membuat persahabatan mereka semakin erat.

Setiap hari Nata selalu membonceng Niki ke sekolah (yang letaknya tak jauh dari rumah mereka) menggunakan sepeda. Mereka seolah tak terpisahkan. Terlebih, Nata dan Niki sejak kecil selalu bersekolah di tempat yang sama dan selalu duduk sebangku. Namun di SMA Harapan, Niki duduk dengan Annalise. Cewek pindahan yang berdarah blasteran dan merupakan anak dari seorang model terkenal, Vidia Rossa. 


Awalnya Anna ragu berteman dengan Nata dan Niki karena ia tak ingin terlalu dekat dengan orang lain. Sejak kecil ia sudah terbiasa pindah sekolah demi mengikuti sang Ibu yang mengikuti rangkaian acara modelling di berbagai negara. Anna sangat paham bagaimana rasanya berpisah dengan banyak teman dan bagaiman ia harus kembali beradaptasi mencari teman di tempat baru. Hal itu kadang membuat Anna lelah untuk memulai sebuah pertemanan. Namun melihat Niki dan Nata yang mau menemaninya berjam-jam di bandara menunggu kedatangan Ibunya, membuat hati Ana perlahan berubah. Terlebih ketika Niki menghiburnya saat ia menangis karena Ibunya batal untuk ke Indonesia. Anna mulai merasakan kehadiran sahabat.


Niki, Nata, dan Anna menjalani hari-harinya bersama-sama. Secara bergilir merek saling berkunjung ke rumah masing-masing sambil belajar dan mengerjakan tugas. Nata yang gemar musik, Niki yang menikmati sebagai anggota cheerleader, dan Anna yang menggeluti fotografi. Persabatan mereka seolah sempurna. Namun tanpa mereka sadari sebuah perasaan mulai terbentuk. Nata menyukai Niki, seseorang yang sejak kecil mau berteman dengannya di saat semua teman menjauhinya karena sikap pendiamnnya. Anna menyukai Nata sejak pertemuan pertama mereka di UKS. 


Dan saat perasaan itu tak sengaja terungkap, persahabatan mereka mulai gamang. Anna dan Nata masing-masing mulai menerima cinta mereka yang bertepuk sebelah tangan. Anna menerima bahwa Nata hanya menyukai Niki. Nata akhirnya merelakan bahwa Niki kini berpacaran dengan Oliver, kapten basket SMA Pelita. Tapi bagaimana dengan Niki? Niki mulai menjauh dari mereka. Niki tak sanggup berada di dekat Nata, ia tak ingin menyakiti sahabat kecilnya itu.


Tapi ketika Oliver berkhianat, Nata lah yang ada di sampingnya. Menolongnya dari kesedihan serta Anna yang menghiburnya. Perlahan persahabatan mereka mulai membaik. Hingga suatu ketika Nata diterima di sebuah sekolah musik di Amerika. Dan Niki menyadari bahwa ia tak bisa kehilangan sahabatnya. Tapi hidup harus memilih...



"...ada tiga jenis orang dalam dunia ini; orang yang memiliki mimpi lalu memilih untuk mengejarnya sampai dapat, orang yang memiliki mimpi tapi tidak melakukan apa-apa untuk menjadikannya nyata, dan orang yang sama sekali tidak mempunyai mimpi." (halaman 299)
"...manusia akan menua, tempat bisa berubah, kita bisa melupakan. Karena itulah kamera digunakan, untuk merekam hal-hal yang tidak dapat diingat manusia dengan sempurna." (halaman 121) 


***

Tema yang diangkat novel ini memang simple, tapi gaya penulisan yang asyik dan alur yang nggak bertele-tele itu ngebuat novel ini sangat menarik. Gimana pembaca diajak menelusuri kisah Niki dan Nata yang manis, lalu kedatangan Anna dengan konflik keluarganya, pertemuan Niki dan Oliver, persahabatan yang mulai canggung, kemudian keberangkatan Nata ke Amerika Serikat. Bisa dibilang timing setiap momen dalam novel ini terasa pas. Jadi para pembaca dibuat penasaran dan nggak bisa stop membaca.

Saat baca review di belakang sampul novel ini, aku menduga ceritanya berkisar antar cinta segitiga yang rumit dan banyak keegoisan, penghianatan, dendam, yah pokoknya yang mengerikan. Tapi ternyata cerita lebih berpusat pada perasaan Nata yang luar biasa dalam terhadap Niki dan keterlambatan Niki menyadari perasaanya kepada Nata. Salutnya dalam novel ini, para tokoh nggak dibuat egois karena perasaannya. Anna misalnya, dia udah tau kalau Nata menyukai Niki tapi Anna tetap mempertahankan persahabatannya. Begitu juga dengan Nata.

Tapi kenapa aku kasi rating 4? Cerita Niki dan Nata memang seru banget tapi entah kenapa setelah membaca novel ini aku nggak bisa inget momen-momen manis mereka. Chemistry mereka kurang greget. Dan dalam novel ini banyak kejanggalan. Pertama, bahasa komunikasi Niki dan Nata sangat membingungkan alias tidak konsisten. Kadang mereka menggunakan aku-kamu, kadang menggunakan gue-elo. Kedua, keberadaan orang tua tanpa dialog. Lucu memang, para orang tua hanya diceritakan melalui narasi tanpa menjelaskan melalui dialog singkat. Malah Kak Danny (kakak Nata) dan Klaudia (adiknya Niki) yang sering muncul. Jadi kesannya Niki dan Nata ini hanya hidup bersama saudara tanpa orang tua.

Biarpun ada beberapa kejanggalan, novel ini aku nobatkan sebagai novel teenlit yang bagus untuk dibaca. Karena jujur aja novel teenlit akhir-akhir ini cuma bicara urusan cinta tanpa ada pesan moral. Aku aja sempet males baca novel ini karena label teenlit. Tapi mengingat novel ini difilmkan dan masuk jajaran best seller, akhirnya aku mulai membaca. Dan ternyata baru baca 3 halaman, novel ini asyik dan buat nagih. Jadi begitu selesai baca aku nonton thailernya "Refrain" di YT. 

Sampai sekarang aku belum nonton versi filmnya, tapi setelah liat thailernya dan baca review di beberapa blog, rasanya jalan cerita sedikit diubah. Di novel nggak ada bagian Niki yang ngejer Nata ke luar negeri. Tapi langsung ke lima tahun kemudian, dimana Nata yang pulang datengin Niki. Trus mengenai karakter, Maudy Ayunda sukses meranin Niki yang ceria. Tapi kalau Afgan, entah kenapa aku kurang sreg dia meranin Nata. Ini menurut pendapatku lho dan mungkin setelah nonton filmny aku bisa ngubah pemikiranku. (rai-ina)

4 komentar:

michael sabtalaga mengatakan...

keren

Rai Inamas Leoni mengatakan...

setuju :)

nomor cantik im3 mengatakan...

Cerita di novelnya lebih detail dari filmnya ngga? Penasaran pengen baca.

Rai Inamas Leoni mengatakan...

iyap, novelnya lebih detail, malah lebih sreg kalo baca. endingnya jg beda antara novel dan filmnya...

Poskan Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini.
Setelah membaca mohon tinggalkan pesan pada kolom komentar.
Salam. ^^

 
Copyright (c) 2010 My Dream is My Life. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.